Rabu, 06 Juni 2012

Ruang Awal


Berdiri kokoh sebuah pintu yang penuh dengan gambar dan coretan masa lalu. Penuh kenangan dan cerita-cerita menarik seiring berjalannya waktu. “Maaf Bukan Jalan Umum” sebuah tulisan berwarna putih pada papan kecil berwarna merah yang menyita perhatian ketika melihat pintu tersebut. Papan kecil itu berasal dari sebuah pom bensin di daerah Bandar Lampung hasil dari kenakalanku di masa itu.

Saat pintu itu dibuka tercium aroma apel dari sebuah pengharum ruangan yang bercampur dengan aroma khas rokok putih. Meskipun sudah 2 bulan tidak merokok, namun aromanya masih bertahan di ruangan ini. Warna cokelat muda yang semakin lusuh termakan usia memenuhi ruangan ini. Di tembok sebelah kiri terdapat beberapa poster, yaitu seorang Valentino Rossi, grup music Linkin Park, dan klub sepakbola Arsenal. Tidak lupa beberapa poster kaligrafi khas Saudi Arabia yang dipercaya untuk mengusir setan.

Detak putaran waktu mulai terdengar dari sudut ruangan. Diapit oleh beberapa gambar denah rumah hasil coba-coba tangan sendiri menghiasi jam dinding tersebut. “aaaahhhhhh” semua itu bagai menyejukkan jiwa ketika merebahkan diri ke kasur tanpa dipan yang terletak di bagian kiri ruangan ini.

Merenggangkan badan dan menoleh ke sebelah kanan menatap lemari setinggi 2 meter seakan memanggil sedari masuk ruangan tadi. Terdapat beberapa catatan kecil yang berisi tugas kuliah untuk minggu ini. “DESKRIPSI KAMAR. PENULISAN FEATURE. MAS IBEN. KUMPULIN VIA E-MAIL.” Tulisan itu bagai puting beliung yang dating tanpa permisi dan menyerbu kesejukkan ruangan ini.

Segera aku membuka jendela untuk menghirup udara segar. Suara gemercik air dari sebuah kolam ikan yang terdapat di depan ruangan ikut menjernihkan pikiran. Aku nyalakan speaker aktif yang disambungkan pada laptop untuk mendendangkan lagu-lagu. Diam sejenak serta merenung adalah kegemaramku sebelum mengerjakan sesuatu. Setelah inspirasi itu muncul, langsung aku tumpahkan pada laptop ini. dan semua itu terjadi pada ruangan ini, ruangan pemimpi.

Sebuah ruangan yang dihuni oleh seorang yang hidup dari mimpi. Setidaknya ia masih bisa hidup meskipun hanya dalam sebuah mimpi. Tidak memilih mati tanpa harga diri. Lebih baik mati muda memperjuangkan ibu pertiwi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar