Berdiri
kokoh sebuah pintu yang penuh dengan gambar dan coretan masa lalu. Penuh
kenangan dan cerita-cerita menarik seiring berjalannya waktu. “Maaf Bukan Jalan
Umum” sebuah tulisan berwarna putih pada papan kecil berwarna merah yang
menyita perhatian ketika melihat pintu tersebut. Papan kecil itu berasal dari
sebuah pom bensin di daerah Bandar Lampung hasil dari kenakalanku di masa itu.
Saat
pintu itu dibuka tercium aroma apel dari sebuah pengharum ruangan yang
bercampur dengan aroma khas rokok putih. Meskipun sudah 2 bulan tidak merokok,
namun aromanya masih bertahan di ruangan ini. Warna cokelat muda yang semakin
lusuh termakan usia memenuhi ruangan ini. Di tembok sebelah kiri terdapat
beberapa poster, yaitu seorang Valentino Rossi, grup music Linkin Park, dan
klub sepakbola Arsenal. Tidak lupa beberapa poster kaligrafi khas Saudi Arabia
yang dipercaya untuk mengusir setan.
Detak
putaran waktu mulai terdengar dari sudut ruangan. Diapit oleh beberapa gambar
denah rumah hasil coba-coba tangan sendiri menghiasi jam dinding tersebut.
“aaaahhhhhh” semua itu bagai menyejukkan jiwa ketika merebahkan diri ke kasur
tanpa dipan yang terletak di bagian kiri ruangan ini.
Merenggangkan
badan dan menoleh ke sebelah kanan menatap lemari setinggi 2 meter seakan
memanggil sedari masuk ruangan tadi. Terdapat beberapa catatan kecil yang
berisi tugas kuliah untuk minggu ini. “DESKRIPSI KAMAR. PENULISAN FEATURE. MAS
IBEN. KUMPULIN VIA E-MAIL.” Tulisan itu bagai puting beliung yang dating tanpa
permisi dan menyerbu kesejukkan ruangan ini.
Segera
aku membuka jendela untuk menghirup udara segar. Suara gemercik air dari sebuah
kolam ikan yang terdapat di depan ruangan ikut menjernihkan pikiran. Aku
nyalakan speaker aktif yang disambungkan pada laptop untuk mendendangkan
lagu-lagu. Diam sejenak serta merenung adalah kegemaramku sebelum mengerjakan
sesuatu. Setelah inspirasi itu muncul, langsung aku tumpahkan pada laptop ini.
dan semua itu terjadi pada ruangan ini, ruangan pemimpi.
Sebuah
ruangan yang dihuni oleh seorang yang hidup dari mimpi. Setidaknya ia masih
bisa hidup meskipun hanya dalam sebuah mimpi. Tidak memilih mati tanpa harga
diri. Lebih baik mati muda memperjuangkan ibu pertiwi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar